Search..

Rabu, 08 Oktober 2014

Stay Close, Don't Go (Fanfiction)



Judul

Stay Close, Don’t Go

Author

Dewifahm

Cast

Seohyun, Kyuhyun, etc.

Genre

Sad, Romance

Type

Oneshoot



~*~



Note : Beberapa kalimat aku ambil dari novel yang aku jadiin inspirasi di fiction ini. Semoga kalian suka sama ceritanya, selamat membaca wiresdeul ^^



~*~



Dentuman musik khas DJ berseru meriah disebuah club malam. Lampu-lampu bergemerlap ke seluruh sudut ruangan. Perpaduan berbagai bau-bauan dan asap rokok juga memenuhi club malam itu. Sesuai ritmis yang menggoda, orang-orang menggerakkan tubuh dilantai dansa, melebur dalam kerasnya musik.



Berbeda jauh dengan sosok gadis yang kini tengah duduk didepan meja bar sambil memainkan gelasnya yang hampir kosong. Wajahnya tampak menyiratkan luka. Tak ada senyum manis, hanya sebuah pandangan kosong namun terbeban dengan sekelumit kenangan yang memenuhi pikirannya.



 “Seohyun-ah, maaf aku terlambat..” gadis itu menoleh, memandang datar sosok tegap yang kini berada di sebelahnya.



Orang itu mengambil tempat disebelah Seohyun, tak lupa memesan segelas minuman favoritnya. Lalu menghadapkan kembali tubuhnya ke arah gadis itu.



“Kenapa hidup ini begitu lucu, Minho-ah..” ucap Seohyun tanpa menoleh pada sahabatnya.



“Disaat aku mulai bisa membuka hati pada sosok baru, mengapa semua menjadi semakin meragukan? Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang..”



“Aku takut kembali mencintai orang yang salah, Minho-ah. Aku tidak ingin semua berakhir seperti dulu..”



Seohyun mencoba mengeluarkan semua uneg-unegnya pada sang sahabat. Gadis itu tak bisa lagi menahan airmata yang jatuh membasahi pipi chubbynya. Sedangkan Minho menghembuskan nafas lelahnya, ia tidak habis pikir dengan jalan pikiran gadis ini.



“Jadi intinya, kau masih mencintai bajingan itu dan kau kini trauma dengan masa lalumu? Kau takut kekasihmu saat ini akan berbuat sama seperti Donghae hyung? Setelah mendapatkan semuanya dari mu, ia lebih memilih untuk meninggalkan dan menikah dengan gadis pilihan orang tuanya?!” ucap Minho sedikit menahan emosinya.



“Kau tahu, Seohyun-ah?”



“Tuhan sangat menyayangi umatnya, begitu juga dengan mu. Donghae hyung sudah bahagia dengan keluarga kecilnya saat ini, dan kau? Dia ingin kau juga bisa merasakan kebahagiaan itu, Seohyun-ah. Maka dari itu Tuhan mengirimkan Kyuhyun hyung untuk mu..”



“Aku sangat yakin Tuhan mempercayakan Kyuhyun hyung untuk membangun harapan mu yang kandas itu, dan mambawa mu pada keadaan yang lebih baik..”



“Sebagai adiknya, aku tahu seberapa besar Kyuhyun hyung mencintai mu, seberapa tulusnya ia ingin membahagiakan mu.. dan seberapa kuat harapannya menginginkan mu menjadi sandaran hidupnya, begitu juga dirinya yang bisa menjadi sandaran hidupmu..”



Minho segera meneguk habis minumannya, lalu beranjak menuju lantai dansa. Membiarkan Seohyun menikmati waktu sendiri, sembari memikirkan ulang perkataannya. Semoga setelah ini gadis itu akan mengubah keputusannya. Ia tidak bisa melihat sahabat tercintanya selalu terpuruk dengan kenangan masalalu, karena baginya masalalu biarlah berlalu..



~*~



Seohyun membawa tubuhnya ke toilet. Agaknya ia perlu menata penampilannya sebelum beranjak pulang ke apartemennya. Saat tengah berjalan sendirian dilorong sepi itu, sebuah tangan menggenggam erat lengannya, membuat kepalanya menoleh kebelakang.



‘Ya Tuhan..’



Hatinya mencelos seketika, laki-laki yang saat ini ingin ia hindari kini tengah berhadapan dengannya. Seohyun mencengram kuat tas yang berada digenggamannya, tangannya berontak mencoba untuk melepaskannya dari cengkraman laki-laki itu.



“Kyuhyun oppa.. aku mohon lepaskan..” Seohyun memohon pada laki-laki yang ia sebut Kyuhyun itu. Namun nihil, Kyuhyun malah semakin kuat menahannya.



“Seohyun-ah, aku hanya..” kata-kata Kyuhyun terpotong ketika dengan sekuat tenaga Seohyun berhasil melepaskan cengkraman itu. Tidak, bukan karena Seohyun yang terlalu kuat, hanya saja laki-laki itu merasa bersalah dan mengendurkan cengkramannya pada gadis itu. Melihat sang gadis kesakitan, membuatnya memilih untuk mengalah.



“Apa kau tidak mengerti kata-kata ku tempo hari? Kita tidak perlu bertemu lagi, semuanya sudah selesai..” ucap Seohyun sambil memandang tajam raut wajah Kyuhyun yang terlihat sedih.



“Tapi diantara kau dan aku masih belum selesai, Seohyun..”



Kyuhyun mengambil nafas dalam sebelum kembali melanjutkan ucapannya. “Aku tidak ingin kau terjebak dalam masalalu. Yang sudah berlalu, tidak ada yang bisa kau rubah. Aku tulus dengan mu, Seohyun-ah.. Aku mencintai mu apa adanya, aku ingin kau..”



“Cukup..” Seohyun kembali memotong ucapan Kyuhyun.



“Jangan mengambil keputusan sembarangan, oppa. Kau tidak harus seperti ini untuk peduli kepada ku. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi nanti, dan aku tahu kau sendiri masih belum terlalu yakin dengan keputusan mu ini. Aku hanya tidak mau kau akan menyesal nanti..” dengan lembut Seohyun mengucapkan sebuah alasan yang menjadi pertimbangannya. Sudah jelaskah jika ia hanya tidak ingin semuanya berakhir sama, sia-sia.



Kyuhyun tersenyum miris mengetahui alasan klasik Seohyun. Apa ketulusannya selama ini tidak bisa membuat gadis ini mengerti jika ia tidak pernah main-main dengan sebuah komitmen? Saat ini bukanlah sebuah romansa cinta monyet, keseriusannya sungguh tulus dan murni karena ia mencintai Seohyun.



“Apa kau pikir aku ini anak kecil yang gampang mengambil keputusan? Tidak, Seohyun. Aku sudah memikirkan semuanya, termasuk keinginan ku untuk mengikat mu, menjadikan mu sebagai seorang pendamping hidupku.. Aku mencintai mu, Seohyun..”



Entah untuk keberapa kalinya Kyuhyun mengucapkan kata itu. Namun tetap saja, Seohyun tetap berpegang teguh pada keputusannya. Jika saja Seohyun bukanlah seorang yang berhati keras, mungkin gadis itu sudah memeluk tubuh jangkung itu, menangis dan percaya dengan semua yang laki-laki itu ucapkan.



“Maafkan aku, Kyuhyun oppa..” ucap Seohyun lembut, lalu beranjak dan memilih untuk segera pergi dari hadapan Kyuhyun.



~*~



Seohyun tengah termenung dibawah naungan halte dekat kampusnya. Pandangannya lurus menatap jalanan yang basah karena rintikan gerimis menyelimuti malam di sudut kota Seoul ini. Sudah berlalu dua hari sejak kejadian di klub malam itu, namun pikirannya seolah terbagi dengan semua perkataan Kyuhyun dan tatapan sendu laki-laki itu yang terus menghantui pikirannya.



Suara deru sepeda motor dan lampu yang berpijar dari kejauhan membuat Seohyun tersadar dari lamunannya. Tampak sosok yang sudah sangat dikenalinya tengah memamerkan senyumnya yang Seohyun akui, sangat mempesona. Tetapi dalam sekejap pemikiran itu sirna, kembali ia yakinkan pada dirinya untuk tidak kembali terpesona dengan senyum aneh itu.



Apa yang sebenarnya diinginkan laki-laki itu? Apa dia masih belum menerima keputusannya?



Dada Seohyun kini dipenuhi perasaan takut dan cemas memandang Kyuhyun yang mendekat kearahnya. Kyuhyun membuka jaket dan menyampirkannya dibahu Seohyun. Laki-laki itu tersenyum hangat memandang wajah sang gadis, walau gadis itu kini tengah menatapnya tajam.



“Kenapa masih betah disini? Ini sudah malam, Seohyun. Tidak baik anak gadis berdiam diri dihalte seperti ini. Kau bisa masuk angin jika harus berlama-lama menunggu seseorang datang untuk menjemput mu..”



Suasana kembali hening, Kyuhyun tidak berkeinginan untuk melanjutkan ucapannya. Sepertinya ia merindukan saat-saat seperti ini. Duduk berdua dengan Seohyun.



“Apa kau baru pulang lembur?” ucap Seohyun setelah mengamati jika Kyuhyun masih memakai pakaian kantornya.



Apa boleh Kyuhyun merasa senang saat ini? Setidaknya gadis disebelahnya ini masih mau memperhatikannya. “Tidak juga, bibi ku membuka sebuah restoran tak jauh dari sini. Aku baru saja membantunya”



Mengingat kembali bagaimana sedihnya laki-laki ini sejak dua hari lalu, membuat Seohyun berkeinginan untuk meminta maaf atas ucapannya kemarin. Tidak seharusnya ia berkata kasar seperti itu pada Kyuhyun yang sudah berusaha membuatnya sedikit melupakan masalalunya.



“Maafkan aku,..”



“Aku hanya tidak ingin mempermainkan perasaan tulus mu itu, oppa.. aku takut tidak bisa membalas cinta mu seutuhnya..”



“Begitukah? Lalu apa arti ciuman waktu itu? Apa artinya kebersamaan kita selama ini?” lirih Kyuhyun dalam keheningan. Gadis itu mendengarnya, sangat jelas!



Jantung Seohyun mencelos seketika saat Kyuhyun menyinggung tentang kesalahan kecilnya. Kesalahan yang sudah terlanjur ia lakukan, membuatnya tak bisa mengelak dari kenyataan. Bayangan ciuman waktu itu kembali hadir. Seohyun benar-benar meruntuki kejadian itu.



~*~



Kyuhyun memainkan sebuah nada dengan petikan lembut gitarnya. Semilir angin yang berhembus, menggetarkan ranting pepohonan, bergemersik dengan dedaunan rimbun. Bukit ini memang tampak indah dikelilingi pemandangan gedung-gedung pencakar langit kota Seoul. Tanpa sadar, Seohyun mulai merebahkan kepalanya dibahu Kyuhyun. Mencoba menikmati suara Kyuhyun yang terasa menyatu dengan suasana. Begitu merdu dan hangat.



Kyuhyun mengentikan permainan musiknya. Laki-laki itu mengusap lembut rambut Seohyun, lalu ikut menyandarkan kepalanya diatas kepala gadis itu. Tangannya meraih jemari Seohyun, menggenggamnya senyaman mungkin. Seohyun tetap diam dan tersenyum, membiarkan jemari itu masuk diantara sela-sela jarinya.



Detik demi detik mereka lalui dengan perasaan nyaman yang masing-masing rasakan saat ini. Seohyun mulai mengangkat kepalanya, begitu juga dengan Kyuhyun.



“Tetaplah tersenyum manis seperti ini, Seohyun-ah. Apa kau tidak lelah harus berpura-pura bahagia?”



“Aku sudah bahagia sesuai takarannya, oppa. Lagi pula, aku bahagia atau tidak juga tidak akan ada yang peduli..” jawab Seohyun santai seolah tengah menyindir Kyuhyun.



“Nde?? Dasar kau..” Kyuhyun yang kesal dengan ucapan Seohyun segera mengapit kepala gadis itu, memitingnya lembut yang malah membuat Seohyun sukses tertawa kegelian memohon ampun pada laki-laki ini.



“Hahaha.. ampun, oppa. Lepaskan aku, tolongg!!!! Ada penyiksaan gadis dibawah umurr!!! Hey, aku masih ingin hiduppp.. Kyuhyunnn oppaaaa!!! Hahaha..”



Mereka tertawa bersama, hingga masing-masing merasa lelah. Keheningan kembali menyelimuti mereka berdua. Kyuhyun menatap lembut wajah Seohyun, entah mengapa  ia begitu mengagumi wajah cantik itu.



Perlahan Kyuhyun menyentuh dagu Seohyun dan menarik lembut wajahnya untuk mendekat. Bibir mereka bertemu, laki-laki itu menciumnya begitu lembut seperti kapas dan sangat perlahan. Seohyun menikmati tu, ia memejamkan matanya seolah tergoda untuk selalu membalas lumatan-lumatan manis bibir tipis Kyuhyun.



“You mean so much to me.. Saranghae Seohyun-ahh..” ucap Kyuhyun disela ciuman lembutnya. Kyuhyun menundukkan wajahnya, mendarati bibirnya disepanjang leher Seohyun. Erangan lembut keluar dari bibirnya.



~*~



Seohyun kembali memejamkan matanya, mencoba menguatkan diri untuk berterus terang pada Kyuhyun. “Maafkan aku, oppa. Aku hanya tidak ingin memberimu cinta yang dangkal, dan pada akhirnya malah membuatmu sakit hati..”



Walau sedikit kecewa, tetapi Kyuhyun patut bersyukur dengan pernyataan Seohyun barusan. Ia merasakan jika gadis itu juga mencintainya, dan Kyuhyun sadar semua itu hanya butuh waktu.



Hawa malam semakin dingin, Kyuhyun menggosok-gosokkan telapak tangannya. Diraihnya sebelah tangan Seohyun, ia genggam lembut tangan itu seolah menyalurkan kehangatan dari kedua tanggannya.  “Apa yang kau rasakan?”



“Hangat..”



“Apa kehangatan itu langsung terasa?” Seohyun menggelengkan kepalanya, wajah polosnya menatap bingung dengan tindakan Kyuhyun.



Kyuhyun menggenggam tangan itu semakin erat. Ia tersenyum saat Seohyun kembali menatapnya aneh. “Begitu juga dengan perasaan kita, Seohyun-ah. Kalau kita jalani secara perlahan, semua pasti bisa kita nikmati. Semakin kita terburu-buru, semakin cepat pula hilangnya perasaan itu..”



Seohyun semakin tersenyum mendengar penuturan Kyuhyun. Laki-laki ini memang memiliki segudang kata yang dapat membuatnya merasa tenang.



“Kenapa kau memilih ku, Kyuhyun oppa? Ada banyak gadis yang lebih baik dari ku, yang mungkin bisa sepenuhnya mencintai mu..”



Kyuhyun hanya tersenyum mendengar pertanyaan Seohyun. Ia mengambil nafas dalam sebelum melanjutkan penjelasannya pada gadis ini.



“Alasannya karena Tuhan menginginkan itu. Tuhan menginginkan dirimu lah yang menjadi pilihan hatiku. Dia punya banyak rencana, Seohyun-ah.. dan aku yakin, Kau dan Aku ada diantara banyak rencana-Nya..”



“Seohyun-ah, menikahlah dengan ku..”



Mata indah Seohyun sudah tidak dapat menahannya lagi, air mata itu jatuh.. sejatuh perasaannya mendengar semua ucapan tersebut. Dilingkarkannya kedua tangannya memeluk tubuh jangkung itu. Begitu juga dengan Kyuhyun yang membalas pelukan gadisnya. Tidak ada dusta, sungguh. Semua yang ia ucapkan adalah sebuah ketulusan untuk cintanya.



Haruskah Seohyun kembali menolak permintaan tulus dari Kyuhyun? Mendengar ucapan Kyuhyun membuatnya kembali memiliki harapan.



“Kyuhyun oppa.. aku percaya padamu..”
 
Kyuhyun melepaskan pelukannya, ia terkejut saat mengetahui Seohyun menangis sesenggukan. Padahal, jika boleh jujur, kemeja yang ia pakai saat ini adalah pinjaman dari bosnya, kemejanya tadi pagi kotor karena cipratan(?) lumpur dijalan.



“Cup..cup..jangan menangis, kita masih berada di halte, sayang.. Ayo, sebaiknya aku mengantarkan mu pulang”



Seohyun hanya memukul pelan pundak Kyuhyun. Tanpa membantah ia beranjak dari halte dan naik ke motor Kyuhyun. Baik Kyuhyun maupun Seohyun tengah berusaha menenangkan debaran jantungnya. Kyuhyun menggenggam tangan Seohyun yang melingkari perutnya. Seohyun tersenyum dan semakin mengeratkan pelukannya. Kyuhyun membuatnya kembali merasa dicintai. Dan ia tidak mengharapkan lebih dari ini.



-END-